Gema Suci dari Hutan Alas Jerem
Di pesisir tenggara Pulau Bali, terhampar sebuah desa bernama Ketewel. Namun, jauh sebelum menjadi pemukiman yang hidup, wilayah ini adalah sebuah hutan lebat nan sunyi yang dikenal sebagai Alas Jerem. Sebuah tempat yang diselimuti misteri, konon dikuasai oleh roh perkasa bernama Buta Siyu. Dari hutan inilah, sebuah kisah epik tentang penciptaan, pengorbanan, dan penjagaan keseimbangan jagat dimulai.
Alkisah, jagat Bali pernah berada dalam kegelapan. Seorang entitas bernama I Kala Sunya, yang bersemayam di tengah samudra, menebar kekacauan, penyakit, dan malapetaka ke seluruh pulau. Melihat penderitaan ini, Ida Hyang Pasupati, yang bersthana di Gunung Semeru, tergerak untuk turun ke Bali. Pada hari suci Buda Kliwon Shinta , Beliau tiba di Alas Jerem bersama jutaan dewa. Di sanalah mereka menggelar sebuah paruman agung (pertemuan suci) untuk menyusun strategi melawan kekuatan I Kala Sunya. Pertarungan berlangsung sengit, namun kekuatan para dewa belum mampu menandingi I Kala Sunya.
Akhirnya, Ida Hyang Pasupati melakukan ritual penyucian agung. Dengan kekuatan sucinya, batu menjadi kayu bakar dan air laut menjadi minyak, menciptakan api raksasa yang panasnya luar biasa. I Kala Sunya pun menyerah dan memohon ampun. Ia berjanji tidak akan lagi mengganggu Bali, asalkan setiap tahun pada bulan Caitra, sebuah persembahan suci bernama Tawur Amanca Wali Krama dipersembahkan untuknya. Di tempat paruman agung itulah, sebuah Kahyangan (tempat suci) didirikan dan diberi nama Kahyangan Puseh Payogan Agung. Sejak saat itu, tempat ini menjadi pusat spiritual untuk memulihkan dan menjaga harmoni jagat Bali.
Setelah pura berdiri, Alas Jerem masih sunyi tanpa penghuni manusia, tanpa ada yang menjalankan upacara. Takdir kemudian memanggil Made Pasek, putra seorang abdi suci di Pura Pasar Agung Besakih. Setelah melakukan perjalanan spiritual yang panjang, ia menerima pawisik (bisikan gaib) dari Ida Hyang Pasupati untuk menuju Alas Jerem. Di sana, ia diangkat menjadi Pemongmong Widhi (penjaga spiritual) pertama. Statusnya diubah dari klan Pasek menjadi Wangsa Dukuh dengan gelar Dukuh Murti atau Dukuh Sakti.
Suatu ketika, Dalem Gelgel beserta 300 pengikutnya berkunjung. Dukuh Murti mengingatkan sang raja untuk bersembahyang di Pelinggih Madhurgama agar terhindar dari bencana. Namun, Dalem Gelgel menolak. Benar saja, dalam perjalanan pulang, badai dahsyat menewaskan 200 pengikutnya. Murka dan salah paham, Dalem Gelgel menuduh Dukuh Murti sebagai penyebabnya, lalu memerintahkan utusannya untuk membunuh sang penjaga suci dan istrinya. Tragedi ini melahirkan sebuah kutukan: keturunan sang utusan selamanya dilarang memimpin upacara di Pura Payogan Agung.
Putra Dukuh Murti, Dukuh Centing, menerima kabar kematian ayahnya melalui sebuah penglihatan. Saat kembali ke Alas Jerem, ia terkejut melihat dua pohon nangka raksasa kembar yang tumbuh secara misterius. Tiba-tiba, ia mendengar suara gaib dari Hyang Pasupati:
"Wahai Centing, janganlah engkau takut. Aku perintahkan kau untuk membelah pohon nangka itu. Di dalamnya akan muncul dua bayi, laki-laki dan perempuan. Angkatlah mereka sebagai anakmu. Kelak, dari merekalah akan lahir garis keturunan mulia Prawangsa Ketewel, karena mereka muncul dari pohon Nangka."
Dukuh Centing mematuhi perintah itu. Kedua bayi, yang diyakini sebagai reinkarnasi Dukuh Murti dan istrinya, diberi nama Gede Mawa (Gede Ketewel) dan Mawitsari. Untuk mengenang peristiwa ajaib inilah, wilayah Alas Jerem secara resmi dinamai Desa Ketewel.
Seiring waktu, Ketewel berada di bawah pengaruh kerajaan-kerajaan besar di Bali. Pada masa kekuasaan Mengwi, seorang pemimpin bijaksana bernama Gusti Agung Maruta memerintah. Karena baktinya yang tulus, ia mendapat petunjuk suci untuk membangun sebuah Meru tumpang sembilan sebagai sthana Ida Bhatara Hyang Giri Jagat Natha, dan Meru tumpang lima untuk Ida Bhatara Hyang Putra Jaya. Di masanya, rakyat hidup makmur.
Namun, setelah ia wafat, penggantinya yang abai pada ritual suci membuat desa dilanda bencana. Kedua meru runtuh diterpa angin kencang dan wabah penyakit menyebar. Keseimbangan baru pulih saat Ida Dewa Agung Anom Karna dari Puri Sukawati berkuasa. Beliau membangun kembali meru-meru yang runtuh dan menggelar upacara agung Panca Walikrama, membawa kembali era kedamaian yang dikenang dengan ungkapan "tan hana wong mati lare" (tidak ada anak-anak yang meninggal dunia).
Ketewel adalah rumah bagi dua set topeng sakral yang sangat dihormati.
Dipercaya dibuat oleh Ki Lampor dari Kerajaan Daha/Jawi atas perintah suci dari Hyang Pasupati. Tujuh topeng utama dibuat dari kayu suci Gunung Semeru, "dihidupkan" melalui ritual selama 42 hari, lalu dikirim ke Payogan Agung. Tarian ini hanya dibawakan oleh gadis-gadis yang belum akil balig dan berfungsi sebagai penolak bala (penampep).
Dibuat atas perintah Hyang Pasupati kepada Ida Bhatara Gana untuk meniru wajah para raja dan menteri Kerajaan Majapahit. Ke-13 topeng ini hanya ditarikan saat upacara besar seperti Mapedudusan Agung oleh penari yang telah disucikan (mewinten) sebagai penutup dan penyempurna upacara (pemuwus karya).
Kisah-kisah agung Ketewel tidak hanya hidup dalam lontar dan ingatan, tetapi juga terukir abadi di dalam batu. Kawasan Pura Payogan Agung adalah sebuah situs arkeologi yang kaya. Di sini ditemukan berbagai peninggalan dari Masa Sejarah Bali Kuno, termasuk: Lingga Yoni: Simbol Siwa-Sakti yang menjadi pusat pemujaan kuno. Arca-arca Kuno: Berbagai patung perwujudan dewa dan tokoh suci, beberapa dalam bentuk fragmen yang menunjukkan usianya yang sangat tua. Prasasti Batu: Lempengan batu dengan tulisan kuno yang menjadi bukti sejarah. Arca Gajah dan Ukiran Kebo Iwa: Patung-patung monumental yang dihormati oleh masyarakat setempat. Penemuan ini membuktikan bahwa Ketewel telah menjadi pusat spiritual penting selama berabad-abad.